KOTA METRO – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati Kelompok 14 menghadirkan solusi inovatif mengatasi tumpukan limbah pertanian melalui program pengolahan sekam padi menjadi briket bernilai ekonomi tinggi di RW 01 Kelurahan Metro, Kecamatan Metro Pusat.

Mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat melalui Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Briket Bernilai Guna”, kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian kampus kepada masyarakat sekaligus langkah strategis memanfaatkan potensi wilayah secara berkelanjutan. Kota Metro yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian padi di Provinsi Lampung kerap dihadapkan pada masalah limbah sekam padi yang umumnya hanya dibuang atau dibakar begitu saja tanpa nilai guna.
Melalui kegiatan ini, tim mahasiswa memberikan pemahaman komprehensif mulai dari potensi sekam padi sebagai bahan baku energi alternatif, proses pembuatan yang sederhana, hingga peluang pengembangannya sebagai produk usaha mandiri.
Acara berlangsung khidmat dengan rangkaian pembukaan resmi, sambutan dari Ketua Kelompok KKL-PPM serta perwakilan perangkat RW 01, dilanjutkan sesi penyuluhan mendalam dan praktik langsung pembuatan briket. Warga tampak antusias mengikuti setiap tahapan mulai dari persiapan bahan, pencampuran adonan, pencetakan hingga proses pengeringan yang tepat.
Ketua Kelompok 14 KKL-PPM Universitas Malahayati, Aditya Anantha, menjelaskan pemilihan program ini didasari kesesuaian dengan kondisi riil wilayah.
“Kota Metro memiliki ketersediaan limbah sekam padi yang sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Kami ingin mengubah pola pandang masyarakat: apa yang selama ini dianggap sampah ternyata bisa diolah menjadi bahan bakar bersih, awet, dan berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga,” ujar Aditya di lokasi kegiatan, Jumat (24/7/2026).
Sementara itu, Ketua RW 01 Kelurahan Metro, Marsanto, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang dibawa para mahasiswa.
“Ini adalah ilmu yang sangat bermanfaat dan tepat sasaran. Selama ini kami hanya membiarkan sekam padi menumpuk atau dibakar yang justru mengganggu lingkungan. Harapannya, keterampilan ini tidak berhenti di hari ini saja, tapi bisa diteruskan warga secara mandiri bahkan dikembangkan menjadi usaha bersama,” tuturnya.
Program ini diharapkan menjadi tonggak awal perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan limbah pertanian. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, briket sekam padi menawarkan alternatif bahan bakar yang lebih hemat dan ramah dibandingkan kayu bakar atau minyak tanah.
Sinergi antara mahasiswa, pihak kampus, dan masyarakat setempat menjadi bukti bahwa potensi lokal yang dikelola dengan baik mampu melahirkan solusi nyata bagi kesejahteraan bersama. Ke depannya, tim berharap model pemberdayaan serupa dapat diterapkan di wilayah lain yang memiliki karakteristik pertanian sejenis,(Red).












Leave a Reply